Perubahan itu Perlu

Senin, 14 Oktober 2013

Prinsip Kerja Forensik Digital


Freezing The Scene (Part 2)


Menurut Pavel Gladyshev prinsip kerja dari forensik digital adalah:
=> Pemeliharaan (“Freezing the Crime Scene”).
           Mengamankan lokasi dengan cara menghentikan atau mencegah setiap aktivitas yang dapat merusak atau menghilangkan barang bukti.
·        =>  Pengumpulan.
                 Menemukan dan mengumpulkan semua barang bukti digital atau hal – hal yang dapat menjadi barang bukti atau informasi apa saja yang masih bersangkutan dengan kasus yang sedang diselidiki.
·       =>  Pemeriksaan.
                Menganilisis barang bukti yang ada dan mencari data sebanyak–banyaknya yang berhubungan dengan kasus. Tahap ini adalah penentuan apakah pelaku kejahatan bisa tertangkap atau lolos dari jeratan hukum.
·        =>  Analisis.
                 Menyimpulkan bukti–bukti yang dikumpulkan selama proses penyelidikan.
                Pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas yang tidak berpengalaman dan tidak mengerti forensic digital (prosedur forensic digital), hampir dapat dipastikan akan menghasilkan bukti yang tidak hampir pasti menghasilkan bukti yang tidak dapat diterima di pengadilan hukum.

Permodelan Forensik
            Proses forensik setidaknya akan melibatkan 3 komponen yang harus di kelola dengan baik sehingga membentuk hasil akhir yang layak untuk di pertanggung jawabkan kebenarannya. Ketiga komponen tersebut adalah :
1.    Manusia (People), diperlukan kualifikasi untuk mencapai manusia yang berkualitas. Memang mudah untuk belajar komputer forensik, tetapi untuk menjadi ahlinya, dibutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan dan pengalaman.
2.      Peralatan (Equipment), diperlukan sejumlah perangkat atau alat yang tepat untuk mendapatkan sejumlah bukti (evidence) yang dapat dipercaya dan berkuliatas bukan sekadar bukti palsu. Jenis peralatan : perangkat lunak, perangkat keras, media penyimpanan
3.      Aturan (Protocol), diperlukan dalam menggali, mendapatkan, menganalisis, dan akhirnya menyajikan dalam bentuk laporan yang akurat. Dalam komponen aturan, diperlukan pemahaman yang baik dalam segi hukum dan etika, kalau perlu dalam menyelesaikan sebuah kasus perlu melibatkan peran konsultasi yang mencakup pengetahuan akan teknologi informasi dan ilmu hukum.

Dalam proses investigasi komputer yang diyakini telah disusupi, biasanya akan memerlukan waktu lebih lama dari pada proses penyusupan itu sendiri. Sebagai ilustrasi, jika sebuah usaha hacking untuk mengambil alih sebuah system membutuhkan waktu sekitar 2 jam, maka proses investigasi insiden yang terjadi dapat membutuhkan waktu 40 jam (mungkin juga lebih) untuk mendapatkan ‘false-positive report’ dan pengumpulan catatan segala aktifitas dari sistem tersebut. Waktu yang dialokasikan tersebut belum termasuk aktivitas memperbaiki dan mengembalikan (restoring) data yang kemungkinan besar ikut hilang pada proses intrusi.

Perlunya Perlindungan Bukti
            Dari penyelidikan yang dilakukan oleh Electronic Privacy Information Center (EPIC), “Sejak 1992 jumlah kasus kejahatan komputer telah meningkat tiga kali.Dari 419 kasus yang diajukan oleh penuntut hanya 83 yang dieksekusi karena kurangnya bukti. Saat suatu kasus diajukan bisa memakan waktu persidangan sampai lima tahun. Alasannya adalah bukti yang dikumpulkan pada kasus kejahatan komputer sangat kompleks.”
            Banyak kasus tidak dibawa ke pengadilan karena barang bukti yang tidak memadai. Bukti harus ditangani secara hati-hati untuk mencegah penolakan dalam pengadilan, karena rusak atau mengalami perubahan. Barang bukti komputer merupakan benda yang sensitif dan bisa mengalami kerusakan karena salah penanganan. Ahli forensik harus menanganinya sedemikian sehingga dijamin tidak ada kerusakan atau perubahan.
            Ahli forensik bisa mengidentifikasikan penyusupan dengan mengetahui apa yang harus dicari, dimana, dan bukti lain yang diperlukan. Informasi harus mencukupi untuk menentukan apakah upaya penegakan hukum harus disertakan.Proteksi barang bukti merupakan suatu hal yang krusial. Barang bukti tidak boleh rusak atau berubah selama tahapan dan proses recovery dan analisis, juga diproteksi dari kerusakan virus dan mekanis/elektromekanis. Proses harus dilakukan secepat mungkin setelah insiden supaya detilnya masih terekam baik oleh mereka yang terlibat. Hal itu bisa dimulai dengan catatan secara kronologis.Misalnya tentang tanggal, jam, dan deskripsi komputer. Bila menganalisa server mungkin akan diperiksa event log. Karena user bisa mengubah waktu dengan mudah, perhatikanlah bagaimana kecocokannya dengan kronologi kejadian. Buka komputer dan lihat apakah ada lebih dari satu hard disk, catat peripheral apa yang terhubung, termasuk nomor seri hard disk. 
Beberapa ancaman terhadap barang bukti :
 *)     Virus : dapat mengakibatkan kerusakan atau perubahan file.
       *)    Prosedur cleanup : yaitu adanya program atau script yang menghapus file saat komputer shutdown ataustart up.
       *)   Ancaman eksternal : misal dari lingkungan yang tidak kondusif sehingga merusak data. Seperti tempat yang terlalu panas, dingin, atau lembab.
 
       Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai Penanganan Insiden Forensik Freezing the Scene dapat dilihat pada link dibawah ini :