Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan mamaliayang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya. Secara alamiah, jenis kelamin seorang anak yang baru lahir entah laki-laki atau perempuan. Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan laki-laki dewasa sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan perempuan dewasa sebagai wanita.
Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari janin , bayi, balita, anak-anak , remaja, pemuda/i,dewasa, dan orangtua.
Selain itu masih banyak penggolongan-penggolongan yang lainnya, berdasarkan ciri-ciri fisik (warna kulit, rambut, mata; bentuk hidung; tinggi badan), afiliasi sosio-politik-agama (penganut agama/kepercayaan XYZ, warga negara XYZ, anggota partai XYZ), hubungan kekerabatan (keluarga: keluarga dekat, keluarga jauh, keluarga tiri, keluarga angkat, keluarga asuh; teman; musuh) dan lain sebagainya.
Sebuah peradaban adalah sebuah masyarakat yang telah mencapai tingkat kerumitan tertentu, umumnya termasuk perkotaan dan pemerintahan berlembaga, agama, iptek, sastra sertafilsafat. Perkotaan paling awal di dunia ditemukan di dekat rute perdagangan penting kira-kira 10.000 tahun lalu (Yeriko, Çatalhöyük). Kebudayaan manusia dan ekspresi seni mendahului peradaban dan dapat dilacak sampai ke palaeolithik (lukisan goa, arca Venus, tembikar / pecah belah dari tanah). Kemajuan pertanian memungkinkan transisi dari masyarakat pemburu dan pengumpul atau nomadik menjadi perkampungan menetap sejak Milenium ke-9 SM. Penjinakan hewan menjadi bagian penting dari kebudayaan manusia (anjing, domba, kambing,lembu). Dalam masa sejarah ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang bahkan lebih pesat (lihat Sejarah iptek).
Renungan diri
Umat manusia selalu mempunyai perhatian yang hebat akan dirinya sendiri. Kecakapan manusia untuk mengintrospeksi diri, keinginan individu untuk menjelajahi lebih mengenai intisari diri mereka, tanpa terkecuali menghasilkan berbagai penyelidikan mengenai kondisi manusia merupakan pokok jenis manusia secara keseluruhan. Renungan diri adalah dasar dari filsafat dan telah ada sejak awal pencatatan sejarah. Artikel ini misalnya, karena ditulis oleh manusia, dengan sendirinya tak dapat luput dari contoh refleksi diri.
Manusia kerap menganggap dirinya sebagai spesies dominan di Bumi, dan yang paling maju dalam kepandaian dan kemampuannya mengelola lingkungan. Kepercayaan ini khususnya sangat kuat dalam kebudayaan Barat, dan berasal dari bagian dalam cerita penciptaan di Alkitab yang mana Adam secara khusus diberikan kekuasaan atas Bumi dan semua makhluk. Berdampingan dengan anggapan kekuasaan manusia, kita sering menganggap ini agak radikal karena kelemahan dan singkatnya kehidupan manusia (Dalam Kitab Suci Yahudi, misalnya, kekuasaan manusia dijanjikan dalam Kejadian 1:28, tetapi pengarang kitab Pengkhotbah meratapi kesia-siaan semua usaha manusia).
Ahli filsafat Yahudi, Protagoras telah membuat pernyataan terkenal bahwa “Manusia adalah ukuran dari segalanya; apa yang benar, benarlah itu; apa yang tidak, tidaklah itu”. Aristotlemendeskripsikan manusia sebagai “hewan komunal” (ζωον πολιτικον), yaitu menekankan pembangunan masyarakat sebagai pusat pembawaan alam manusia, dan “hewan dengan sapien” (ζωον λογον εχων, dasar rasionil hewan), istilah yang juga menginspirasikan taksonomi spesies, Homo sapiens.
Pandangan dunia dominan pada abad pertengahan Eropa berupa keberadaan manusia yang diciri-cirikan oleh dosa, dan tujuan hidupnya adalah untuk mempersiapkan diri terhadap pengadilan akhir setelah kematian. Pencerahan / pewahyuan digerakkan oleh keyakinan baru, bahwa, dalam perkataan Immanuel Kant, “Manusia dibedakan di atas semua hewan dengan kesadaran-dirinya, yang mana ia adalah ‘hewan rasionil’”. Pada awal abad ke-20, Sigmund Freud melancarkan serangan serius kepada positivisme mendalilkan bahwa kelakuan manusia mengarah kepada suatu bagian besar yang dikendalikan oleh pikiran bawah sadar.
Dari titik pandang ilmiah, Homo sapiens memang berada di antara spesies yang paling tersama-ratakan di Bumi, dan hanya ada sejumlah kecil spesies tunggal yang menduduki lingkungan beraneka-ragam sebanyak manusia. Rupa-rupa usaha telah dibuat untuk mengidentifikasikan sebuah ciri-ciri kelakuan tunggal yang membedakan manusia dari semua hewan lain, misal: Kemampuan untuk membuat dan mempergunakan perkakas, kemampuan untuk mengubah lingkungan, bahasa dan perkembangan struktur sosial majemuk. Beberapa ahli antropologi berpikiran bahwa ciri-ciri yang siap diamati ini (pembuatan-perkakas dan bahasa) didasarkan pada kurang mudahnya mengamati proses mental yang kemungkinan unik di antara manusia: kemampuan berpikir secara simbolik, dalam hal abstrak atau secara logika. Adalah susah, namun, untuk tiba pada suatu kelompok atribut yang termasuk semua manusia, dan hanya manusia, dan harapan untuk menemukan ciri-ciri unik manusia yang adalah masalah dari renungan-diri manusia lebih daripada suatu masalah zoologi.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia#Kebudayaan_dan_peradaban
http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia
Perubahan itu Perlu
Tampilkan postingan dengan label IBD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IBD. Tampilkan semua postingan
Minggu, 15 Mei 2011
Sabtu, 14 Mei 2011
MANUSIA DAN PENDERITAAN
Penderitaan
Penderitaan itu dapat berbentuk lahir atau batin, keduanya termasuk penderitaan ialah keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan, dan lain-lain. Al Qur’an maupun kitab suci agama lain banyak menguraikan penderitaan manusia sebagai peringatan bagi manusia. contoh penderitaan secara lahiriah, yaitu seorang individu merasakan sakit pada dirinya. Misalnya terluka akibat kecelakaan, atau sakit yang cukup lama. Dari hal tersebut lah manusia bisa dikatakan sedang menderita.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya ada juga penderitaan yang di sebabkan karena akibat dari perbuatan orang itu sendiri,karena orang tersebut tidak menggunakan persepsinya.namun tak hanya persepsi tetapi melainkan orang tersebut tidak bisa menentuan progres ke depannya melainkan orang tersebut menderita karena adanya regresi(kemunduran).
Siksaan
Apabila berbicara tentang siksaan, terbayang di benak kita sesuatu yang sangat mengerikan, bahkan mendirikan bulu kuduk kita. Di dalam benak kita, terbayang seseorang yang tinggi besar, kokoh kuat dan dengan muka yang seram sedang memegang cemeti yang siap mencambukkan tubuh orang yang akan disiksa; atau ia memegang tang dan siap mencopot kuku-kuku orang yang disiksa. Mungkin juga si penyiksa sedang merokok dan bermaksud untuk menyulut sekujur tubuh orang yang sedang disiksa. Semua itu dengan maksud agar orang yang disiksa itu memenuhi permintaan penyiksa atau sebagai perbuatan balas dendam.
Siksaan manusia juga menimbulkan kreativitas bagi orang yang pernah mengalami siksaan atau orang lain yang berjiwa seni yang menyaksikan langsung atau tak langsung. Hal itu terbukti dengan banyaknya tulisan, baik berupa berita, cerpen ataupun novel yang megisahkan siksaan. Dengan membaca hasil seni yang berupa siksaan, kita akan dapat mengambil hikmahnya. Karena kita dapat menilai arti manusia, harga diri, kejujuran, kesabaran, dan ketakwaan, tetapi juga hati yang telah dikuasai nafsu setan, kesadisan, tidak mengenal perikemanusiaan, dan sebagainya .
Ketakutan mental
Ketakutan mental memiliki arti dimana seorang individu merasakan ketakutan yang berlebihan atau bisa dibilang phobia. Hal ini bisa disebabkan karena trauma yang mendalam atau sugesti yang berlebihan dari diri kita masing-masing.
Mental seorang manusia itu sebagian besar diciptakan dari pikiran manusia itu sendiri. Jadi apabila kita memiliki ketakutan yang berlebihan pada sesuatu maka hal itu akan terbawa dampaknya pada mental kita. Sehingga menyebabkan ketakutan mental. Selain itu ketakutan mental juga bisa disebabkan karena kita mengalami trauma, dimana trauma tersebut sangat berpengaruh besar pada hidup kita. Sehingga rasa takut pada diri kita sulit untuk dihilangkan dan mengakibatkan ketakutan mental.
Maka dari itu ketakutan mental kebanyakan disebabkan oleh diri kita sendiri dan juga orang lain. Akan tetapi hal tersebut bisa dihindari apabila kita memiliki keberanian yang lebih besar dari rasa takut kita.
Penderitaan itu dapat berbentuk lahir atau batin, keduanya termasuk penderitaan ialah keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan, dan lain-lain. Al Qur’an maupun kitab suci agama lain banyak menguraikan penderitaan manusia sebagai peringatan bagi manusia. contoh penderitaan secara lahiriah, yaitu seorang individu merasakan sakit pada dirinya. Misalnya terluka akibat kecelakaan, atau sakit yang cukup lama. Dari hal tersebut lah manusia bisa dikatakan sedang menderita.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya ada juga penderitaan yang di sebabkan karena akibat dari perbuatan orang itu sendiri,karena orang tersebut tidak menggunakan persepsinya.namun tak hanya persepsi tetapi melainkan orang tersebut tidak bisa menentuan progres ke depannya melainkan orang tersebut menderita karena adanya regresi(kemunduran).
Siksaan
Apabila berbicara tentang siksaan, terbayang di benak kita sesuatu yang sangat mengerikan, bahkan mendirikan bulu kuduk kita. Di dalam benak kita, terbayang seseorang yang tinggi besar, kokoh kuat dan dengan muka yang seram sedang memegang cemeti yang siap mencambukkan tubuh orang yang akan disiksa; atau ia memegang tang dan siap mencopot kuku-kuku orang yang disiksa. Mungkin juga si penyiksa sedang merokok dan bermaksud untuk menyulut sekujur tubuh orang yang sedang disiksa. Semua itu dengan maksud agar orang yang disiksa itu memenuhi permintaan penyiksa atau sebagai perbuatan balas dendam.
Siksaan manusia juga menimbulkan kreativitas bagi orang yang pernah mengalami siksaan atau orang lain yang berjiwa seni yang menyaksikan langsung atau tak langsung. Hal itu terbukti dengan banyaknya tulisan, baik berupa berita, cerpen ataupun novel yang megisahkan siksaan. Dengan membaca hasil seni yang berupa siksaan, kita akan dapat mengambil hikmahnya. Karena kita dapat menilai arti manusia, harga diri, kejujuran, kesabaran, dan ketakwaan, tetapi juga hati yang telah dikuasai nafsu setan, kesadisan, tidak mengenal perikemanusiaan, dan sebagainya .
Ketakutan mental
Ketakutan mental memiliki arti dimana seorang individu merasakan ketakutan yang berlebihan atau bisa dibilang phobia. Hal ini bisa disebabkan karena trauma yang mendalam atau sugesti yang berlebihan dari diri kita masing-masing.
Mental seorang manusia itu sebagian besar diciptakan dari pikiran manusia itu sendiri. Jadi apabila kita memiliki ketakutan yang berlebihan pada sesuatu maka hal itu akan terbawa dampaknya pada mental kita. Sehingga menyebabkan ketakutan mental. Selain itu ketakutan mental juga bisa disebabkan karena kita mengalami trauma, dimana trauma tersebut sangat berpengaruh besar pada hidup kita. Sehingga rasa takut pada diri kita sulit untuk dihilangkan dan mengakibatkan ketakutan mental.
Maka dari itu ketakutan mental kebanyakan disebabkan oleh diri kita sendiri dan juga orang lain. Akan tetapi hal tersebut bisa dihindari apabila kita memiliki keberanian yang lebih besar dari rasa takut kita.
Senin, 14 Februari 2011
Manusia
1. Posisi Manusia di antara makhluk lain
Manusia mendiami bumi, menjadi pemimpin di muka bumi ini. Namun, bukan hanya manusia yang hidup di bumi ini melainkan ada makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan, tak lupa juga dengan benda mati yang ada. Mungkin manusia yang lebih dominan, namun sesungguhnya kehidupan manusia sangat bergantung kepada makhluk hidup dan benda mati. Seandainya saja hanya manusia spesies satu satunya yang mendiami bumi mungkin hanya dalam beberapa jam saja spesies manusia kan punah. Sayangnya, sekarang ini secara tidak langsung dan perlahan lahan manusia mulai melupakan statusnya sebagai sesame makhluk Tuhan dan bahkan semua ini dapat menghancurkan manusia sendiri.
Manusia membutuhkan makhluk hidup lain serta benda benda mati, itu benar dan tak dapat dipungkiri lagi. Kelangsungan hidup manusia salah satunya sangat bergantung pada 2 hal tersebut, bilamana makhluk lain seperti tumbuh tumbuhan mulai berkurang jumlahnya maka dampak yang sangat buruk dapat terjadi. Dapat kita gambarkan seperti ini, tumbuhan dan pepohonan sangat berguna bagi manusia. Pepohonan menghasilkan oksigen yang cukup bagi manusia setiap harinya, namun apa yang manusia perbuat, seperti seenaknya menebang pohon tanpa dipilih pilih dulu, dan tanpa menanam kembali sehingga membuat kelangsungan hidup pepohonan akan hancur dan manusia sendiri akan merasakan dampaknya meskipun tak secara langsung. Sekarang saja dampak nyata dari penebangan pohon sudah terlihat seperti global warming.
Kemudian, binatang juga sangat berperan bagi kelangsungan hidup manusia. Salah satunya adalah hewan dapat dijadikan makanan dan juga hal lainnya. Namun, karena nafsu yang tak terkendali dan demi kepentingan pribadi semata, manusia tak memikirkan bahwa saat ini sudah banyak binatang yang termasuk kategori langka. Padahal keberadaan binatang tersebut sangat berguna bagi manusia. Hal ini seharusnya dapat dihindari bila saja manusia melestarikan dan mengembangbiakkan populasi binatang yang dibunuh untuk keperluan manusia.
Terakhir, benda mati mungkin bila hanya dilihat saja tidak ada yang special dan sepertinya sangat tidak berguna sama sekali. Namun, bila sudah diolah dan diproses untuk menjadi barang kebutuhan manusia benda benda mati sangat dibutuhkan oleh manusia. Sebagai contohnya ialah migas dan barang tambang. Penggunaanbahan bahan tersebut yang secara berlebihan telah membuat persediaan untuk tahun tahun kedepan menjadi menipis. Tidak ada kepedulian terhadap generasi berikutnya. Seharusnya penghematan dilakukan dan dicari alternatif lain.
2. Daya Manusia
Sumber daya manusia atau biasa disingkat menjadi SDM potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Dalam pengertian praktis sehari-hari, SDM lebih dimengerti sebagai bagian integral dari sistem yang membentuk suatu organisasi. Oleh karena itu, dalam bidang kajian psikologi, para praktisi SDM harus mengambil penjurusan industri dan organisasi.
Sebagai ilmu, SDM dipelajari dalam manajemen sumber daya manusia atau (MSDM). Dalam bidang ilmu ini, terjadi sintesa antara ilmu manajemen dan psikologi. Mengingat struktur SDM dalam industri-organisasi dipelajari oleh ilmu manajemen, sementara manusia-nya sebagai subyek pelaku adalah bidang kajian ilmu psikologi.
Dewasa ini, perkembangan terbaru memandang SDM bukan sebagai sumber daya belaka, melainkan lebih berupa modal atau aset bagi institusi atau organisasi. Karena itu kemudian muncullah istilah baru di luar H.R. (Human Resources), yaitu H.C. atau Human Capital. Di sini SDM dilihat bukan sekedar sebagai aset utama, tetapi aset yang bernilai dan dapat dilipatgandakan, dikembangkan (bandingkan dengan portfolio investasi) dan juga bukan sebaliknya sebagai liability (beban,cost). Di sini perspektif SDM sebagai investasi bagi institusi atau organisasi lebih mengemuka.
3. Tipologi Manusia
Sebelum kita menruskan perjalanan wisata kita menuju Periode Kematian Kedua, ada tiga tema penting terkait dengan Fase Setelah Lahir atau fase kehidupan di dunia yang perlu kita bahas. Mari kita kunjungi dan saksikan fenomena dan realitas kehidupan manusia ketika melewati Fase Setelah Lahir ke dunia. Kendati telah terbukti bahwa Allahlah yang menciptakan manusia 100 %, mutlak didasari kehendak-Nya, dengan sistem penciptaan yang ditetapkan-Nya, melalui proses dan tahapan yang ditentukan-Nya. Namun, ketika melewati fase kehidupan di dunia, khususnya setelah dewasa, pada kenyataannya, manusia ada yang mengakui keberadaan Tuhan Pencipta dan ada pula yang mengingkari-Nya. Dalam pengakuan tersebut ada yang mengakui-Nya secara mutlak dan bulat seperti yang dilakukan oleh orang-orang beriman dan ada pula yang setengah-setengah seperti yang dilakukan oleh orang-orang munafik. Dalam penolakan terhadap Tuhan Pencipta juga ada yang menolak-Nya secara mutlak seperti yang dilakukan oleh kaum atheist dan ada pula menolaknnya setengah-setengah seperti yang dilakukan oleh kaum materialis dan sekular.
Penerimaan dan penolakan tersebut akan melatarbelakangi tingkah laku, kebiasaan dan kultur yang terbentuk dalam kehidupan manusia. Jika penerimaan terhadap Tuhan Pencipta didasari ilmu, secara utuh dan total, maka prilaku, kebiasaan dan kultur yang lahir dari kehidupan manusia akan mencerminkan kehendak dan sistem-Nya secara utuh dan total pula. Begitu juga sebaliknya dengan sikap penolakan terhadap Tuhan Pencipta. Dengan kata lain, prilaku, kebiasaan dan kultur yang terbangun dalam kehidupan seseorang sangat erat kaitannya dengan sikap yang ia bangun terhadap Tuhan Pencipta, khususnya setelah melewati masa remaja dan dewasa.
Timbul pertanyaan: Kenapa bisa terjadi dua sikap yang bertolak belakang terkait dengan pengakuan terhadap Tuhan Pencipta dalam kenyataan kehidupan manusia di dunia ini? Bukankah Allah Maha Kuasa menggiring manusia semuanya menjadi beriman, ta’at dan patuh pada-Nya sebagaimana Dia berkuasa menciptakan mereka dari tidak ada? Kondisi tersebut ternyata juga tidak keluar dari sistem Allah yang diterapkan-Nya untuk manusia ketika mereka melewati Fase Kehidupan Dunia, sebagaimana yang Allah jelaskan dalam beberapa ayat berikut ini :
1. Allah menciptakan manusia dengan fasilitas fisik amat sempurna. لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (amat sempurna) 94) (Q.S. Attin (5): 4)
2. Allah juga telah membekali manusia dengan empat alat super jenius dan canggih, yakni pendengaran, penglihatan, pikiran dan hati, seperti yang Allah firmankan : قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ (23) Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (23) (Q.S. Al-Mulk (67) : 23)
3. Kesempurnaan fisik dan kecanggihan empat alat tersebut ternyata belum cukup bagi manusia untuk menentukan jalan kebenaran dan kebaikan bagi diri mereka sendiri agar sampai kepada suatu sikap penerimaan terhadap Tuhan Pencipta secara mutlak dan totalitas. Sebab itu, dengan kemurahan dan kasih sayang pada hamba-Nya, Allah menurunkan Kitab Petunjuk Hidup (Al-Qur’an) yang hak (benar) dan sesuai dengan fitrah mereka sendiri, agar dapat memilih jalan yang lurus dan terang dalam menjalankan kehidupan di dunia ini. Allah menjelaskan dalam firman-Nya : الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (1) Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Pencipta Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (1) (Q.S. Ibrahim (14) : 1)
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ......... (185) Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)……. (185) (Q.S. Al-Baqoruh (2) : 185)
4. Untuk dapat mencerna, memahami dan menerima kebenaran Kitab Petunjuk (Al-Qur’an) tersebut, Allah selalu memberikan kepada manusia kemampuan melihat tanda-tanda Kekuasaan dan Kebesaran-Nya dalam jagad raya dan dalam diri mereka sendiri, agar jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (53) Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk (jagad raya) dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (53) (Q.S. Fush-shilat (41) : 53)
5. Setelah manusia diciptakan dengan fisik yang amat sempurna, dibekali dengan empat alat super canggih, diturunkan untuk mereka Kitab Petunjuk Hidup (Al-Qur’an) serta diperlihatkan selalu tanda-tanda Kekuasaan dan Kebesaran-Nya dalam jagad raya dan diri manusia itu sendiri, dengan semua nikmat maha besar dan lengkap itu, Allah membiarkan mereka untuk memilih jalan mana yang akan mereka tempuh dalam kehidupan dunia ini; jalan Tauhid atau jalan kemusyrikan, jalan syukur atau jalan kufur, jalan ta’at atau jalan maksiyat (durhaka), jalan lurus atau jalan bengkok, jalan baik atau jalan buruk, jalan hak atau jalan bathil, jalan cahaya atau jalan gelap gulita, jalan ma’ruf atau jalan mungkar, jalan kejujuran atau jalan kebohongan, jalan lapang atau jalan sempit, jalan Iblis dan setan atau jalan para Nabi dan Rasul, jalan kebahagiaan atau jalan kesengsaraan, jalan kesuksesan atau jalan kegagalan, jalan orang shaleh atau jalan preman, jalan hati nurani atau jalan syahwat, jalan kemuliaan atau jalan kehinaan, jalan ketinggian atau jalan murahan, jalan ketulusan atau jalan kemunafikan, jalan kesungguhan atau jalan kemalasan, jalan penuh karya dan keratifitas atau jalan pengangguran dan kejumudan, jalan keilmuan atau jalan kebodohan, jalan kepastian atau keragu-raguan, jalan ketenangan atau jalan kegelisahan, jalan keadilan atau jalan kezaliman, jalan amal shaleh atau jalan kejahatan, jalan tradisi Nabi atau jalan tradisi nenek moyang, dan jalan ke Syurga atau jalan ke Neraka?
Silahkan mereka yang memilihnya dengan sukarela dan tidak boleh ada paksaan dalam pemilihan jalan hidup itu, karena mereka akan menanggung sendiri resiko pilihan itu, seperti yang Allah firmankan : وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ (99) Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (99) (Q.S. Yunus (10) : 99)
6. Untuk membuktikan Maha Adilnya Allah Tuhan Pencipta, Dia memberikan reward (imbalan) berdasarkan pilihan manusia itu sendiri. Jika baik, Dia akan balas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Namun, jika buruk, Dia juga akan membalasnya dengan keburukan yang setimpal. Mari kita renungkan firman Allah berikut ini: وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا (29) إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلا (30) أُولَئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الأَرَائِكِ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا (31) Dan katakanlah: "Kebenaran (Al-Qur’an) itu datangnya dari Tuhan Penciptamu; maka Barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang lalim itu Neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (29) Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal shaleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan (nya) dengan baik.(30) Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka Syurga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam Syurga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat-istirahat yang indah. (31) (Q.S. Al-kahfi (18) : 29 – 31)
Sesungguhnya haq (kebenaran) dan kebaikan itu banyak warnanya, sebagaimana bathil dan keburukan juga berwarna warni. Namun esensi masing-masing hanya satu, yakni Iman dan Kufur. Seringkali kita sulit memilah dan memisahkan antara keduanya, karena bisa saja sebagian warna hak dan kebaikan itu berada dalam diri seseorang yang hidupnya dilandasi kebathilan dan keburukan. Sebaliknya juga demikian, warna-warni kebathilan dan keburukan bisa saja menghinggapi kepribadian seseorang yang melandasi aktivitas kehidupannya dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan, seperti beberapa contoh kasus yang telah disebutkan pada pembahasan metode SEI Empowermen dalam Bagian I dari buku ini.
Biasanya, kondisi seperti itu terjadi bila proses SEI Empowerment tidak berjalan dengan baik, seimbang dan maksimal. Namun demikian, semua haq (kebenaran) berinduk dan bermuara dari keimanan (keyakinan) pada Tuhan Pencipta. Sedangkan semua bentuk kebathilan itu berinduk dan bermuara pada kufur (penolakan) pada Tuhan Pencipta. Sebab itu, dalam membahas tipologi manusia yang sedang melewati FASE SETELAH LAHIR atau fase kehidupan di dunia, khususnya setelah dewasa, kami hanya membagi kepada dua tipe saja, yakni manusia beriman dan manusia kafir (tidak beriman). Pembagian tersebut dilandasi firman Allah berikut ini :
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (2)
Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang Kafir (tidak beriman) dan di antaramu ada yang Mu’min (beriman). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S At-Taghobun (64) : 2)
http://arikaka.com/posisi-manusia-di-antara-makhluk-lain/
http://id.wikipedia.org/wiki/Sumber_daya_manusia
http://www.eramuslim.com/syariah/life-management/tipologi-manusia.htm
Manusia mendiami bumi, menjadi pemimpin di muka bumi ini. Namun, bukan hanya manusia yang hidup di bumi ini melainkan ada makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan, tak lupa juga dengan benda mati yang ada. Mungkin manusia yang lebih dominan, namun sesungguhnya kehidupan manusia sangat bergantung kepada makhluk hidup dan benda mati. Seandainya saja hanya manusia spesies satu satunya yang mendiami bumi mungkin hanya dalam beberapa jam saja spesies manusia kan punah. Sayangnya, sekarang ini secara tidak langsung dan perlahan lahan manusia mulai melupakan statusnya sebagai sesame makhluk Tuhan dan bahkan semua ini dapat menghancurkan manusia sendiri.
Manusia membutuhkan makhluk hidup lain serta benda benda mati, itu benar dan tak dapat dipungkiri lagi. Kelangsungan hidup manusia salah satunya sangat bergantung pada 2 hal tersebut, bilamana makhluk lain seperti tumbuh tumbuhan mulai berkurang jumlahnya maka dampak yang sangat buruk dapat terjadi. Dapat kita gambarkan seperti ini, tumbuhan dan pepohonan sangat berguna bagi manusia. Pepohonan menghasilkan oksigen yang cukup bagi manusia setiap harinya, namun apa yang manusia perbuat, seperti seenaknya menebang pohon tanpa dipilih pilih dulu, dan tanpa menanam kembali sehingga membuat kelangsungan hidup pepohonan akan hancur dan manusia sendiri akan merasakan dampaknya meskipun tak secara langsung. Sekarang saja dampak nyata dari penebangan pohon sudah terlihat seperti global warming.
Kemudian, binatang juga sangat berperan bagi kelangsungan hidup manusia. Salah satunya adalah hewan dapat dijadikan makanan dan juga hal lainnya. Namun, karena nafsu yang tak terkendali dan demi kepentingan pribadi semata, manusia tak memikirkan bahwa saat ini sudah banyak binatang yang termasuk kategori langka. Padahal keberadaan binatang tersebut sangat berguna bagi manusia. Hal ini seharusnya dapat dihindari bila saja manusia melestarikan dan mengembangbiakkan populasi binatang yang dibunuh untuk keperluan manusia.
Terakhir, benda mati mungkin bila hanya dilihat saja tidak ada yang special dan sepertinya sangat tidak berguna sama sekali. Namun, bila sudah diolah dan diproses untuk menjadi barang kebutuhan manusia benda benda mati sangat dibutuhkan oleh manusia. Sebagai contohnya ialah migas dan barang tambang. Penggunaanbahan bahan tersebut yang secara berlebihan telah membuat persediaan untuk tahun tahun kedepan menjadi menipis. Tidak ada kepedulian terhadap generasi berikutnya. Seharusnya penghematan dilakukan dan dicari alternatif lain.
2. Daya Manusia
Sumber daya manusia atau biasa disingkat menjadi SDM potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Dalam pengertian praktis sehari-hari, SDM lebih dimengerti sebagai bagian integral dari sistem yang membentuk suatu organisasi. Oleh karena itu, dalam bidang kajian psikologi, para praktisi SDM harus mengambil penjurusan industri dan organisasi.
Sebagai ilmu, SDM dipelajari dalam manajemen sumber daya manusia atau (MSDM). Dalam bidang ilmu ini, terjadi sintesa antara ilmu manajemen dan psikologi. Mengingat struktur SDM dalam industri-organisasi dipelajari oleh ilmu manajemen, sementara manusia-nya sebagai subyek pelaku adalah bidang kajian ilmu psikologi.
Dewasa ini, perkembangan terbaru memandang SDM bukan sebagai sumber daya belaka, melainkan lebih berupa modal atau aset bagi institusi atau organisasi. Karena itu kemudian muncullah istilah baru di luar H.R. (Human Resources), yaitu H.C. atau Human Capital. Di sini SDM dilihat bukan sekedar sebagai aset utama, tetapi aset yang bernilai dan dapat dilipatgandakan, dikembangkan (bandingkan dengan portfolio investasi) dan juga bukan sebaliknya sebagai liability (beban,cost). Di sini perspektif SDM sebagai investasi bagi institusi atau organisasi lebih mengemuka.
3. Tipologi Manusia
Sebelum kita menruskan perjalanan wisata kita menuju Periode Kematian Kedua, ada tiga tema penting terkait dengan Fase Setelah Lahir atau fase kehidupan di dunia yang perlu kita bahas. Mari kita kunjungi dan saksikan fenomena dan realitas kehidupan manusia ketika melewati Fase Setelah Lahir ke dunia. Kendati telah terbukti bahwa Allahlah yang menciptakan manusia 100 %, mutlak didasari kehendak-Nya, dengan sistem penciptaan yang ditetapkan-Nya, melalui proses dan tahapan yang ditentukan-Nya. Namun, ketika melewati fase kehidupan di dunia, khususnya setelah dewasa, pada kenyataannya, manusia ada yang mengakui keberadaan Tuhan Pencipta dan ada pula yang mengingkari-Nya. Dalam pengakuan tersebut ada yang mengakui-Nya secara mutlak dan bulat seperti yang dilakukan oleh orang-orang beriman dan ada pula yang setengah-setengah seperti yang dilakukan oleh orang-orang munafik. Dalam penolakan terhadap Tuhan Pencipta juga ada yang menolak-Nya secara mutlak seperti yang dilakukan oleh kaum atheist dan ada pula menolaknnya setengah-setengah seperti yang dilakukan oleh kaum materialis dan sekular.
Penerimaan dan penolakan tersebut akan melatarbelakangi tingkah laku, kebiasaan dan kultur yang terbentuk dalam kehidupan manusia. Jika penerimaan terhadap Tuhan Pencipta didasari ilmu, secara utuh dan total, maka prilaku, kebiasaan dan kultur yang lahir dari kehidupan manusia akan mencerminkan kehendak dan sistem-Nya secara utuh dan total pula. Begitu juga sebaliknya dengan sikap penolakan terhadap Tuhan Pencipta. Dengan kata lain, prilaku, kebiasaan dan kultur yang terbangun dalam kehidupan seseorang sangat erat kaitannya dengan sikap yang ia bangun terhadap Tuhan Pencipta, khususnya setelah melewati masa remaja dan dewasa.
Timbul pertanyaan: Kenapa bisa terjadi dua sikap yang bertolak belakang terkait dengan pengakuan terhadap Tuhan Pencipta dalam kenyataan kehidupan manusia di dunia ini? Bukankah Allah Maha Kuasa menggiring manusia semuanya menjadi beriman, ta’at dan patuh pada-Nya sebagaimana Dia berkuasa menciptakan mereka dari tidak ada? Kondisi tersebut ternyata juga tidak keluar dari sistem Allah yang diterapkan-Nya untuk manusia ketika mereka melewati Fase Kehidupan Dunia, sebagaimana yang Allah jelaskan dalam beberapa ayat berikut ini :
1. Allah menciptakan manusia dengan fasilitas fisik amat sempurna. لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (amat sempurna) 94) (Q.S. Attin (5): 4)
2. Allah juga telah membekali manusia dengan empat alat super jenius dan canggih, yakni pendengaran, penglihatan, pikiran dan hati, seperti yang Allah firmankan : قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ (23) Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (23) (Q.S. Al-Mulk (67) : 23)
3. Kesempurnaan fisik dan kecanggihan empat alat tersebut ternyata belum cukup bagi manusia untuk menentukan jalan kebenaran dan kebaikan bagi diri mereka sendiri agar sampai kepada suatu sikap penerimaan terhadap Tuhan Pencipta secara mutlak dan totalitas. Sebab itu, dengan kemurahan dan kasih sayang pada hamba-Nya, Allah menurunkan Kitab Petunjuk Hidup (Al-Qur’an) yang hak (benar) dan sesuai dengan fitrah mereka sendiri, agar dapat memilih jalan yang lurus dan terang dalam menjalankan kehidupan di dunia ini. Allah menjelaskan dalam firman-Nya : الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (1) Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Pencipta Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (1) (Q.S. Ibrahim (14) : 1)
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ......... (185) Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)……. (185) (Q.S. Al-Baqoruh (2) : 185)
4. Untuk dapat mencerna, memahami dan menerima kebenaran Kitab Petunjuk (Al-Qur’an) tersebut, Allah selalu memberikan kepada manusia kemampuan melihat tanda-tanda Kekuasaan dan Kebesaran-Nya dalam jagad raya dan dalam diri mereka sendiri, agar jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (53) Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk (jagad raya) dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (53) (Q.S. Fush-shilat (41) : 53)
5. Setelah manusia diciptakan dengan fisik yang amat sempurna, dibekali dengan empat alat super canggih, diturunkan untuk mereka Kitab Petunjuk Hidup (Al-Qur’an) serta diperlihatkan selalu tanda-tanda Kekuasaan dan Kebesaran-Nya dalam jagad raya dan diri manusia itu sendiri, dengan semua nikmat maha besar dan lengkap itu, Allah membiarkan mereka untuk memilih jalan mana yang akan mereka tempuh dalam kehidupan dunia ini; jalan Tauhid atau jalan kemusyrikan, jalan syukur atau jalan kufur, jalan ta’at atau jalan maksiyat (durhaka), jalan lurus atau jalan bengkok, jalan baik atau jalan buruk, jalan hak atau jalan bathil, jalan cahaya atau jalan gelap gulita, jalan ma’ruf atau jalan mungkar, jalan kejujuran atau jalan kebohongan, jalan lapang atau jalan sempit, jalan Iblis dan setan atau jalan para Nabi dan Rasul, jalan kebahagiaan atau jalan kesengsaraan, jalan kesuksesan atau jalan kegagalan, jalan orang shaleh atau jalan preman, jalan hati nurani atau jalan syahwat, jalan kemuliaan atau jalan kehinaan, jalan ketinggian atau jalan murahan, jalan ketulusan atau jalan kemunafikan, jalan kesungguhan atau jalan kemalasan, jalan penuh karya dan keratifitas atau jalan pengangguran dan kejumudan, jalan keilmuan atau jalan kebodohan, jalan kepastian atau keragu-raguan, jalan ketenangan atau jalan kegelisahan, jalan keadilan atau jalan kezaliman, jalan amal shaleh atau jalan kejahatan, jalan tradisi Nabi atau jalan tradisi nenek moyang, dan jalan ke Syurga atau jalan ke Neraka?
Silahkan mereka yang memilihnya dengan sukarela dan tidak boleh ada paksaan dalam pemilihan jalan hidup itu, karena mereka akan menanggung sendiri resiko pilihan itu, seperti yang Allah firmankan : وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ (99) Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (99) (Q.S. Yunus (10) : 99)
6. Untuk membuktikan Maha Adilnya Allah Tuhan Pencipta, Dia memberikan reward (imbalan) berdasarkan pilihan manusia itu sendiri. Jika baik, Dia akan balas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Namun, jika buruk, Dia juga akan membalasnya dengan keburukan yang setimpal. Mari kita renungkan firman Allah berikut ini: وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا (29) إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلا (30) أُولَئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الأَرَائِكِ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا (31) Dan katakanlah: "Kebenaran (Al-Qur’an) itu datangnya dari Tuhan Penciptamu; maka Barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang lalim itu Neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (29) Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal shaleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan (nya) dengan baik.(30) Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka Syurga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam Syurga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat-istirahat yang indah. (31) (Q.S. Al-kahfi (18) : 29 – 31)
Sesungguhnya haq (kebenaran) dan kebaikan itu banyak warnanya, sebagaimana bathil dan keburukan juga berwarna warni. Namun esensi masing-masing hanya satu, yakni Iman dan Kufur. Seringkali kita sulit memilah dan memisahkan antara keduanya, karena bisa saja sebagian warna hak dan kebaikan itu berada dalam diri seseorang yang hidupnya dilandasi kebathilan dan keburukan. Sebaliknya juga demikian, warna-warni kebathilan dan keburukan bisa saja menghinggapi kepribadian seseorang yang melandasi aktivitas kehidupannya dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan, seperti beberapa contoh kasus yang telah disebutkan pada pembahasan metode SEI Empowermen dalam Bagian I dari buku ini.
Biasanya, kondisi seperti itu terjadi bila proses SEI Empowerment tidak berjalan dengan baik, seimbang dan maksimal. Namun demikian, semua haq (kebenaran) berinduk dan bermuara dari keimanan (keyakinan) pada Tuhan Pencipta. Sedangkan semua bentuk kebathilan itu berinduk dan bermuara pada kufur (penolakan) pada Tuhan Pencipta. Sebab itu, dalam membahas tipologi manusia yang sedang melewati FASE SETELAH LAHIR atau fase kehidupan di dunia, khususnya setelah dewasa, kami hanya membagi kepada dua tipe saja, yakni manusia beriman dan manusia kafir (tidak beriman). Pembagian tersebut dilandasi firman Allah berikut ini :
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (2)
Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang Kafir (tidak beriman) dan di antaramu ada yang Mu’min (beriman). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S At-Taghobun (64) : 2)
http://arikaka.com/posisi-manusia-di-antara-makhluk-lain/
http://id.wikipedia.org/wiki/Sumber_daya_manusia
http://www.eramuslim.com/syariah/life-management/tipologi-manusia.htm
Langganan:
Postingan (Atom)